SYMBOL, POWER, AND SOCIAL CONTROL: THE FUNCTION OF SONGKOK RECCA AS A MARKER OF NOBILITY HIERARCHY IN THE KINGDOM OF BONE UNTIL 1950
Isi Artikel Utama
Abstrak
Songkok Recca, penutup kepala anyaman serat lontar (Borassus flabellifer) yang dikenakan laki-laki Bugis, dikenal luas sebagai warisan budaya Bugis-Makassar dan dipakai di berbagai wilayah Sulawesi Selatan, namun fungsi historisnya sebagai penanda hierarki sosial pada masa kerajaan, khususnya di Kerajaan Bone, relatif belum banyak ditelusuri secara khusus melalui pendekatan sejarah. Penelitian-penelitian terdahulu lebih banyak menyoroti aspek etnobotani bahan bakunya atau fungsi kontemporernya sebagai identitas budaya dan sumber penghidupan pasca-1950, sementara fungsi politik dan simboliknya pada masa kerajaan, terutama interaksinya dengan kebijakan kolonial Belanda, belum mendapat perhatian khusus. Artikel ini secara spesifik membatasi lokusnya pada Kerajaan Bone dan menelusuri fungsi Songkok Recca sejak aturan pemakaiannya dibakukan secara rinci pada masa pemerintahan Raja Bone ke-32, La Mappanyukki, hingga pembubaran kerajaan pada 1950, dengan memadukan empat tahapan metode sejarah (heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi) bersama kerangka antropologi interpretif Clifford Geertz, khususnya thick description, untuk membaca arsip kolonial dan foto koleksi KITLV Leiden (sekitar 1910–1938) bukan sekadar sebagai data faktual, melainkan sebagai teks yang menyimpan lapisan makna sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Songkok Recca berfungsi sebagai instrumen kontrol sosial yang diatur secara rinci berdasarkan proporsi lilitan benang emas untuk setiap strata bangsawan, bahwa maknanya sudah plural sejak sebelum era modern melalui koeksistensi dengan varian Songko Guru bagi golongan religius-intelektual, dan bahwa pemerintah kolonial Belanda pasca-1905 turut mendokumentasikan serta memanfaatkan simbol ini untuk melegitimasi sistem zelfbestuur sejak 1931. Kontribusi penelitian ini adalah menghadirkan pembacaan historis-antropologis yang mengintegrasikan arsip kolonial dengan tradisi lisan Bugis-Bone, sekaligus menegaskan bahwa Songkok Recca, sebelum menjadi produk budaya-komersial seperti dikenal saat ini, pernah berfungsi sebagai penanda hierarki yang diatur nyaris birokratis oleh istana.
##plugins.generic.usageStats.downloads##
Rincian Artikel
Authors who publish with this journal agree to the following terms:
- Copyright on any article is retained by the author(s).
- The author grants the journal, right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution License that allows others to share the work with an acknowledgment of the work’s authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal’s published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgment of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work.
- The article and any associated published material is distributed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License